Durban (ANTARA/AFP) - Carles Puyol menciptakan gol yang mengantar Spanyol ke final Piala Dunia untuk melawan Belanda setelah pada pertandingan semifinal merebut kemenangan 1-0 atas Jerman di Durban, Rabu (Kamis dinihari WIB).
Bek tengah klub Barcelona itu menyundul bola dari jarak 10 yard menyambut tendangan pojok dari Xavi 17 menit sebelum pertandingan berakhir untuk mengantar juara Eropa itu ke final Piala Dunia untuk pertamakalinya.
Sebelumnya Belanda mencapai final setelah mengalahkan Uruguay 3-2 di Cape Town pada Selasa (Rabu dinihari WIB).
Dengan pertemuan Spanyol dan Belanda tersebut, akan lahir juara baru pada Piala Dunia untuk pertamakalinya, sejak Prancis merebut kemenangan di negaranya sendiri pada 1998.
"Seluruh pemain-pemain kami luar biasa, tapi kami masih memiliki satu pertandingan lagi," kata pelatih Spanyol Vicente Del Bosque.
"Kami tahu sepak bola Belanda dan pertandingan akan sangat berat di final nanti."
Del Bosque membuat kejutan sebelum pertandingan dengan mencadangkan pemain depan klub Liverpool Fernando Torres dan memainkan pemain muda Barcelona Pedro.
Hal itu membuat pencetak gol terbanyak turnamen David Villa bisa bermain dari tengah dan perubahan tersebut hampir membuahkan hasil saat pertandingan baru berlangsung enam menit.
Pedro masuk dari sayapnya dan mengelindingkan bola di belakang pertahanan Jerman dan Villa berlari menyambutnya tapi harus meluncur untuk melepaskan tembakan sebelum dimentahkan penjaga gawang Manuel Neuer.
Spanyol seharusnya bisa unggul pada menit ke-14 setelah Iniesta menyilangkan bola dari sisi kanan yang disambut sundulan keras Puyol namun bola melambung di atas mistar gawang.
Pada menit ke-19 bola silang dari Xabi Alonso menemukan Sergio Ramos tapi setelah mengendalikan bola dengan indah, tembakannya liar dan tinggi.
Jerman akhirnya mengancam pada menit ke-32 saat Piotr Trochowski, yang mengisi posisi Thomas Mueller yang menjalani larangan bermain, melepaskan tembakan dari jarak jauh dan memaksa penjaga gawang Iker Casillas untuk melakukan penyelamatan.
Mesut Ozil berpikir kalau dia seharusnya mendapat penalti menjelang akhir babak pertama saat dia berada di bawah tantangan Ramos tapi diabaikan oleh wasit Viktor Kassai.
Spanyol susah-payah untuk menembus kotak penalti dan mulai melepaskan tembakan-tembakan jarak jauh dengan Alonso melakukannya dua kali dan Villa melakukan tembakan tapi melebar.
Neuer kemudian menyelamatkan gawangnya dari Pedro, yang beberapa saat kemudian tembakannya melebar, sementara tembakan Villa beberapa inci dari gawang setelah Iniesta menerobos ke kotak penalti dan melepaskan umpan silang.
Di gawang lain, umpan silang pemain pengganti Marcell Jansen dibuang dengan sundulan pemain Spanyol, disambar Miroslav Klose namun tembakan volinya terlalu tinggi.
Pada menit ke-69 Jerman menciptakan peluang terbaik mereka selama pertandingan itu saat pemain Toni Kroos tidak terkawal menyambut umpan silang Lukas Podolski, tapi penyelesaian akhir dia begitu lemah dan mengarah langsung pada Casillas.
Tapi kemudian Puyol melakukan lompatan luar biasa untuk menyundul bola yang menjebol gawang Jerman.
Spanyol mendapat beberapa peluang lagi dalam serangan balik menjelang akhir pertandingan namun Pedro membuang peluang itu saat dia mencoba memutari Arne Friedrich ketimbang memberikan bola ke Torres, yang menggantikan Villa, yang berdiri bebas.
"Saya sangat senang, kami memainkan pertandingan terbaik Piala Dunia. Kini kami harus menjuarainya," kata Villa.
source : yahoo.com
sugeng rawuh.......!!!!!!!
selamat datang di blog alumni SMA Negeri ajibarang lulusan tahun 2009 " www.alumnismana2009.com"
disini nikmati dunia berbagai inspirasi dariku...
semoga dapat puas... XL kale... hee...hee
yang mau bergabung silahkan cari tahu di bacaan blog.. ada caranya.. ok!!! hidup smana!!!
disini nikmati dunia berbagai inspirasi dariku...
semoga dapat puas... XL kale... hee...hee
yang mau bergabung silahkan cari tahu di bacaan blog.. ada caranya.. ok!!! hidup smana!!!
Kamis, 08 Juli 2010
Selasa, 06 Juli 2010
domain dari web SMA N ajibarang habis berlaku, kenapa?
entah apa yang terjadi.. ternyata blog sma negeri ajibarang tidak dapat di akses lagi,,, mungkin dengan kutipan dibawah ini anda dapat mengerti kenapa hal ini dapat terjadi.
Nama Domain ini telah habis masa berlakunya dikarenakan hal-hal berikut:
* Pemakai/pengelola nama domain ini mengetahui bahwa nama domainnya telah habis masa berlakunya tetapi memilih untuk tidak memperpanjang masa berlaku nama domain tersebut.
* Pemakai/pengelola nama domain ini tidak menerima email informasi mengenai habis masa berlakunya nama domain melalui alamat email yang terdaftar pada sistem registrasi. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak aktif/validnya alamat email tersebut.
Bilamana nama domain ini masih ingin dipergunakan maka pihak pemakai/pengelola nama domain ini dapat melakukan proses perpanjangan agar nama domain dapat diaktifkan kembali.
Untuk informasi mengenai proses perpanjangan silahkan menghubungi pengelola domain anda atau dapat langsung menghubungi:
PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia)
Gedung Arthaloka, Lantai 11
Jalan Jenderal Sudirman Kav 2 Jakarta 10220
Telepon +622157939151 (hunting), +6221 98290955
Fax +62 21 579 39152
Email: info@pandi.or.id
website: www.pandi.or.id
kita doakan saja agar dapat di akses kembali..
Nama Domain ini telah habis masa berlakunya dikarenakan hal-hal berikut:
* Pemakai/pengelola nama domain ini mengetahui bahwa nama domainnya telah habis masa berlakunya tetapi memilih untuk tidak memperpanjang masa berlaku nama domain tersebut.
* Pemakai/pengelola nama domain ini tidak menerima email informasi mengenai habis masa berlakunya nama domain melalui alamat email yang terdaftar pada sistem registrasi. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak aktif/validnya alamat email tersebut.
Bilamana nama domain ini masih ingin dipergunakan maka pihak pemakai/pengelola nama domain ini dapat melakukan proses perpanjangan agar nama domain dapat diaktifkan kembali.
Untuk informasi mengenai proses perpanjangan silahkan menghubungi pengelola domain anda atau dapat langsung menghubungi:
PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia)
Gedung Arthaloka, Lantai 11
Jalan Jenderal Sudirman Kav 2 Jakarta 10220
Telepon +622157939151 (hunting), +6221 98290955
Fax +62 21 579 39152
Email: info@pandi.or.id
website: www.pandi.or.id
kita doakan saja agar dapat di akses kembali..
Jumat, 30 April 2010
pengumuman ujian nasional 2010
Jakarta, Sebanyak 5.795 (35,17%) sekolah dari total 16.467 sekolah yang mengikuti Ujian Nasional (UN) SMA/MA Tahun Pelajaran 2009/2010 lulus 100 persen. Jumlah total siswa di sekolah itu sebanyak 418.855 (27,52%).
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Selasa (27/04/2010) .
Mendiknas menyebutkan, terdapat 267 (1,62%) sekolah yang lulus nol persen terdiri atas 51 (19,10%) sekolah negeri dan 216 (80,90%) sekolah swasta. Seluruh siswa atau sebanyak 7.648 (0,50%) siswa di sekolah itu diberi kesempatan mengikuti Ujian Ulangan pada 10-14 Mei 2010. "Tidak peduli meskipun negeri, tetapi kalau tidak ada yang lulus semua ya tetap tidak lulus. Jadi tidak ada pilih kasih karena (sekolah) negeri maka tidak boleh ada yang tidak lulus semua," katanya.
Mendiknas mengatakan, dari 267 sekolah yang kelulusannya nol persen diantaranya di Provinsi DKI Jakarta ada 10 sekolah, Kalimantan Tengah (20 sekolah), Kalimantan Timur (39 sekolah), Sulawesi Tenggara (26 sekolah), Maluku Utara (20 sekolah), dan Gorontalo (14 sekolah).
Beberapa sekolah negeri yang kelulusannya nol persen diantaranya SMA Negeri 1 Kampung Laut, Kabupaten Cilacap,Jawa Tengah; SMA Negeri 4 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah; dan SMA Negeri 1 Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Mendiknas menyebutkan, total siswa yang mengulang pada satu mata pelajaran sebanyak 40.002 siswa terdiri atas jurusan IPS 24.290 (60,72%) siswa, jurusan IPA 14.031 (35,08%) siswa, jurusan Bahasa 1.476 (3,69%) siswa, dan jurusan Agama 205 (0,51%) siswa.
Adapun mata pelajaran yang paling banyak siswa mengulang untuk jurusan IPA adalah Biologi (31,29%), jurusan IPS adalah Bahasa Indonesia (37,87%), jurusan Bahasa adalah Bahasa Indonesia (62,26%), dan jurusan Agama adalah Bahasa Inggris (31,71%). "Sebagian besar anak-anak jurusan bahasa mengulang (mata pelajaran) bahasa Indonesia," kata Mendiknas.
Pemerintah, kata Mendiknas, berdasarkan analisis terhadap hasil UN ini akan melakukan intervensi kebijakan. Data analisis ini mencakup setiap kabupaten kota yang jumlah ketidaklulusannya paling besar atau nilai rata-rata kelulusannya paling rendah, kemudian pada mata pelajaran apa yang mengulang. Selain itu, analisis ini didukung informasi data sekolah meliputi diantaranya jumlah guru dan fasilitas fisik sekolah. "Kita akan melakukan survei ke lapangan untuk mengetahui peta sebenarnya. Dari situ kita segera bisa menentukan intervensi kebijakan," katanya.***
Sumber: GIM
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Selasa (27/04/2010) .
Mendiknas menyebutkan, terdapat 267 (1,62%) sekolah yang lulus nol persen terdiri atas 51 (19,10%) sekolah negeri dan 216 (80,90%) sekolah swasta. Seluruh siswa atau sebanyak 7.648 (0,50%) siswa di sekolah itu diberi kesempatan mengikuti Ujian Ulangan pada 10-14 Mei 2010. "Tidak peduli meskipun negeri, tetapi kalau tidak ada yang lulus semua ya tetap tidak lulus. Jadi tidak ada pilih kasih karena (sekolah) negeri maka tidak boleh ada yang tidak lulus semua," katanya.
Mendiknas mengatakan, dari 267 sekolah yang kelulusannya nol persen diantaranya di Provinsi DKI Jakarta ada 10 sekolah, Kalimantan Tengah (20 sekolah), Kalimantan Timur (39 sekolah), Sulawesi Tenggara (26 sekolah), Maluku Utara (20 sekolah), dan Gorontalo (14 sekolah).
Beberapa sekolah negeri yang kelulusannya nol persen diantaranya SMA Negeri 1 Kampung Laut, Kabupaten Cilacap,Jawa Tengah; SMA Negeri 4 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah; dan SMA Negeri 1 Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Mendiknas menyebutkan, total siswa yang mengulang pada satu mata pelajaran sebanyak 40.002 siswa terdiri atas jurusan IPS 24.290 (60,72%) siswa, jurusan IPA 14.031 (35,08%) siswa, jurusan Bahasa 1.476 (3,69%) siswa, dan jurusan Agama 205 (0,51%) siswa.
Adapun mata pelajaran yang paling banyak siswa mengulang untuk jurusan IPA adalah Biologi (31,29%), jurusan IPS adalah Bahasa Indonesia (37,87%), jurusan Bahasa adalah Bahasa Indonesia (62,26%), dan jurusan Agama adalah Bahasa Inggris (31,71%). "Sebagian besar anak-anak jurusan bahasa mengulang (mata pelajaran) bahasa Indonesia," kata Mendiknas.
Pemerintah, kata Mendiknas, berdasarkan analisis terhadap hasil UN ini akan melakukan intervensi kebijakan. Data analisis ini mencakup setiap kabupaten kota yang jumlah ketidaklulusannya paling besar atau nilai rata-rata kelulusannya paling rendah, kemudian pada mata pelajaran apa yang mengulang. Selain itu, analisis ini didukung informasi data sekolah meliputi diantaranya jumlah guru dan fasilitas fisik sekolah. "Kita akan melakukan survei ke lapangan untuk mengetahui peta sebenarnya. Dari situ kita segera bisa menentukan intervensi kebijakan," katanya.***
Sumber: GIM
Minggu, 11 April 2010
Laporan Banjir dan Longsor Cianjur
I. DESKRIPSI KEJADIAN BANJIR DAN LONGSOR
A. Waktu dan Tempat Kejadian
Bencana terjadi pada tanggal 14 Nopember 2008 hari jum’at dini hari. Banjir terjadi di Desa Cihaur, Desa Cibokor, dan Desa Muara Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Sedangkan Longsor terjadi di Kampung Nyalindung, Desa Girimukti Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur
B. Korban
15 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka, 310 orang terpaksa harus berada ditempat pengungsian, 30 unit rumah tertimbun, 5 rumah hanyut dan 15 unit rusak berat.
II. DESK ANALISIS
A. Banjir
Tempat kejadian adalah masuk dalam sistem hidrologi Sub-Sub DAS Cikondang, Sub DAS Cisokan Hulu , DAS Citarum. Dalam menganalisa tingkat kerawanan banjir dan longsor, kami melakukan pendekatan karakteristik DAS sebagaimana metode mitigasi banjir dan longsor hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Surakarta Departemen Kehutanan (Paimin,et al., 2006). Adapun hasil desk analisis kami sampaikan sebagi berikut:
DAERAH POTENSI PASOKAN AIR BANJIR
Penilai Faktor Alami (60%)
1. Rata-rata hujan harian maksimum bulan basah adalah 120 Skor 4 kategori Agak Tingggi, Bobot 35%, Nilai 140%;
2. Bentuk DAS Agak bulat, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%;
3. Gradient Sungai 1,1 – 1,5 Skor 2, kategori Agak Rendah, Bobot 10%, Nilai 20%;
4. Kerapatan Drainase Rapat Skor 4, kategori Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%;
5. Lereng rata-rata DAS 26 – 40 Skor 4, kategori Agak tinggi, Bobot 5% Nilai 20%.
Penilaian Faktor Manajemen (40%)
Penilaian dilakukan terhadap jenis penggunaan lahan dominan di daerah pasokan, dimana tempat kejadian umumnya Sawah, Kebun campuran. Skor 3, kategori Agak Tinggi, Nilai 120.
Dari hasil perhitungan formula potensi pasokan air banjir tersebut, dihasilkan nilai sebesar 340, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawana daerah pemasok air banjir di tempat kejadian adalah Agak Rawan.
DAERAH RAWAN BANJIR
Penilai Faktor Alami (55%)
1. Betuk lahan merupakan dataran aluvial, Skor 4 kategori Agak Tingggi, Bobot 30%, Nilai 120%;
2. Lereng lahan kiri-kanan 2 -3%, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 10%, Nilai 40%;
3. Pembendungan oleh percabangan Anak Cabang Sungai Induk, Skor 2, kategori Agak Rendah, Bobot 10%, Nilai 20%;
4. Meandering Sinusitas (P) Panjang/Jarak sungai sesuai belokan : Jarak lurus = 2, Skor 5, kategori tinggi, Bobot 5%, Nilai 25%.
Penilaian Faktor Manajemen (45%)
Penilaian dilakukan terhadap manajemen pengelolaan bangunan air yang dilakukan/yang ada di daerah kejadian, dimana disana tidak ada bangunan sehingga skor 5, kategori tinggi, Nilai 2,25.
Dari hasil perhitungan formula kerawanan daerah kena banjir, dihasilkan nilai sebesar 4,05, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawanan daerah tempat kejadian adalah Rawan.
B. Longsor
Dalam menganalisa bencana longsor kami menggunakan satuan land unit, dimana hasil formulasi tingkat kerawanan longsor di tempat kejadian kami laporkan sebagai berikut:
Penilaian Faktor Alami (60%)
1. Hujan harian kumulatif 3 hari berurutan di tempat kejadian adalah sebesar > 300 mm, Skor 5, kategori Tinggi, Bobot 25%, Nilai 125%;
2. Lereng Lahan > 5 - 45%, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 15%, Nilai 60%;
3. Geologi atau batuan ditempat kejadian umumnya Breksi dan Lava, memiliki Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 10, Nilai 40%;
4. Keberadaan sesar/patahan/gawir ada, Skor 5, kategori Tinggi, Bobot 5% Nilai 25%;
5. Kedalaman tanah (regolit) sampai lapisan kedap 3 -5 m, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%
Panilaian Faktor Manajemen (40%)
1. Penggunaan Lahan Kebun Campuran/ tegalan, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 20%, Nilai 80%;
2. Tidak ada infrastruktur jalan, Skor 1, kategori Rendah, Bobot 15%, Nilai 15%;
3. Kepadatan pemukiman Agak Rendah, sehingga Skor 2, Bobot 5%, Nilai 10%
Dari hasil perhitungan formula kerawanan daerah longsor, dihasilkan nilai sebesar 3,75, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawanan longsor daerah tempat kejadian adalah Rawan.
III. KESIMPULAN
Daerah kejadian merupakan daerah yang rentan terhadap bencana banjir dan longsor, pada saat kejadian, terjadi curah hujan yang diatas normal sehingga jika disimulasikan menggunakan formula yang kami pakai, tingkat kerawanan menjadi meningkat dari perhitungan kondisi biasa.
Simulasi Kerawanan Banjir:
Pada hasil analisa kondisi biasa, curah hujan 120, Skor 4 Nilai 140% menghasilkan nilai kerawanan 4,05 (Agak Rawan), Kondisi pada saat kejadian curah hujan mencapai > 300 mm/hari, Skor 5 Nilai 175% menghasilkan skor kerawanan 4,40 (meningkat menjadi Sangat Rawan). Jadi faktor penyebab utama kejadian masih cenderung kepada faktor curah hujan yang sangat tinggi dari biasanya, didukung informasi dari BMG dimana curah hujan di Jawa Barat akan berada pada kondisi normal sampai atas Normal hingga awal tahun 2009.
Longsor terjadi selain dari curah hujan yang sangat tinggi, juga daerah tersebut merupakan zona gempa tumbukan lempeng vulkanik di daerah Pantai Selatan (Badan Vulkanologi)
Kegiatan kehutanan misalnya dari BPDAS Citarum-Ciliwung juga dari Dinas PKT Kab. Cianjur yang berupa kegiatan Vegetatif melalui GERHAN dan GRLK yang mulai dilaksanakan Tahun 2003, belum berpengaruh terhadap penurunan kerawanan bencana tersebut, karena umur tanaman masih muda dan juga faktor – faktor lain yang lebih bercenderung kepada tingginya kerawanan daerah tersebut.
IV. REKOMENDASI
1. Daerah Pasokan Air Banjir
a. Kawasan Hutan yang rusak direboisasi
b. Lahan-lahan milik dengan kelerengan > 45 % dikelola dengan pola Hutan Rakyat atau Agro forestry.
c. Lahan-lahan pertanian dengan lereng landai sampai agak curam menggunakan teras sering juga saluran air yang baik.
2. Daerah Kena Banjir
a. Pembuatan tanggul kiri kanan sungai di sekitar pemukiman
b. Sistem drainase yang baik di pemukiman maupun di infrastruktur seperti drainase jalan.
c. Hindari Sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
3. Daerah Longsor
a. Kawasan Hutan yang rusak direboisasi
b. Lahan-lahan milik dengan kelerengan > 45 % dikelola dengan pola Hutan Rakyat atau Agro forestry.
c. Lahan-lahan pertanian dengan lereng landai sampai agak curam menggunakan terassering juga saluran pembuangan air (SPA) yang baik.
d. Pembuatan bangunan Teknik Sipil pencegah longsor misalkan bronjong pada tebing- tebing infrastruktur misalkan jalan pada lereng.
e. Pengurugan/penutupan rekahan, reshaoing lereng, bronjong kawat, perbaikan drainase baik drainase permukaan seperti saluran pembuangan atau drainase bawah tanah.
A. Waktu dan Tempat Kejadian
Bencana terjadi pada tanggal 14 Nopember 2008 hari jum’at dini hari. Banjir terjadi di Desa Cihaur, Desa Cibokor, dan Desa Muara Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Sedangkan Longsor terjadi di Kampung Nyalindung, Desa Girimukti Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur
B. Korban
15 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka, 310 orang terpaksa harus berada ditempat pengungsian, 30 unit rumah tertimbun, 5 rumah hanyut dan 15 unit rusak berat.
II. DESK ANALISIS
A. Banjir
Tempat kejadian adalah masuk dalam sistem hidrologi Sub-Sub DAS Cikondang, Sub DAS Cisokan Hulu , DAS Citarum. Dalam menganalisa tingkat kerawanan banjir dan longsor, kami melakukan pendekatan karakteristik DAS sebagaimana metode mitigasi banjir dan longsor hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Surakarta Departemen Kehutanan (Paimin,et al., 2006). Adapun hasil desk analisis kami sampaikan sebagi berikut:
DAERAH POTENSI PASOKAN AIR BANJIR
Penilai Faktor Alami (60%)
1. Rata-rata hujan harian maksimum bulan basah adalah 120 Skor 4 kategori Agak Tingggi, Bobot 35%, Nilai 140%;
2. Bentuk DAS Agak bulat, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%;
3. Gradient Sungai 1,1 – 1,5 Skor 2, kategori Agak Rendah, Bobot 10%, Nilai 20%;
4. Kerapatan Drainase Rapat Skor 4, kategori Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%;
5. Lereng rata-rata DAS 26 – 40 Skor 4, kategori Agak tinggi, Bobot 5% Nilai 20%.
Penilaian Faktor Manajemen (40%)
Penilaian dilakukan terhadap jenis penggunaan lahan dominan di daerah pasokan, dimana tempat kejadian umumnya Sawah, Kebun campuran. Skor 3, kategori Agak Tinggi, Nilai 120.
Dari hasil perhitungan formula potensi pasokan air banjir tersebut, dihasilkan nilai sebesar 340, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawana daerah pemasok air banjir di tempat kejadian adalah Agak Rawan.
DAERAH RAWAN BANJIR
Penilai Faktor Alami (55%)
1. Betuk lahan merupakan dataran aluvial, Skor 4 kategori Agak Tingggi, Bobot 30%, Nilai 120%;
2. Lereng lahan kiri-kanan 2 -3%, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 10%, Nilai 40%;
3. Pembendungan oleh percabangan Anak Cabang Sungai Induk, Skor 2, kategori Agak Rendah, Bobot 10%, Nilai 20%;
4. Meandering Sinusitas (P) Panjang/Jarak sungai sesuai belokan : Jarak lurus = 2, Skor 5, kategori tinggi, Bobot 5%, Nilai 25%.
Penilaian Faktor Manajemen (45%)
Penilaian dilakukan terhadap manajemen pengelolaan bangunan air yang dilakukan/yang ada di daerah kejadian, dimana disana tidak ada bangunan sehingga skor 5, kategori tinggi, Nilai 2,25.
Dari hasil perhitungan formula kerawanan daerah kena banjir, dihasilkan nilai sebesar 4,05, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawanan daerah tempat kejadian adalah Rawan.
B. Longsor
Dalam menganalisa bencana longsor kami menggunakan satuan land unit, dimana hasil formulasi tingkat kerawanan longsor di tempat kejadian kami laporkan sebagai berikut:
Penilaian Faktor Alami (60%)
1. Hujan harian kumulatif 3 hari berurutan di tempat kejadian adalah sebesar > 300 mm, Skor 5, kategori Tinggi, Bobot 25%, Nilai 125%;
2. Lereng Lahan > 5 - 45%, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 15%, Nilai 60%;
3. Geologi atau batuan ditempat kejadian umumnya Breksi dan Lava, memiliki Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 10, Nilai 40%;
4. Keberadaan sesar/patahan/gawir ada, Skor 5, kategori Tinggi, Bobot 5% Nilai 25%;
5. Kedalaman tanah (regolit) sampai lapisan kedap 3 -5 m, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%
Panilaian Faktor Manajemen (40%)
1. Penggunaan Lahan Kebun Campuran/ tegalan, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 20%, Nilai 80%;
2. Tidak ada infrastruktur jalan, Skor 1, kategori Rendah, Bobot 15%, Nilai 15%;
3. Kepadatan pemukiman Agak Rendah, sehingga Skor 2, Bobot 5%, Nilai 10%
Dari hasil perhitungan formula kerawanan daerah longsor, dihasilkan nilai sebesar 3,75, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawanan longsor daerah tempat kejadian adalah Rawan.
III. KESIMPULAN
Daerah kejadian merupakan daerah yang rentan terhadap bencana banjir dan longsor, pada saat kejadian, terjadi curah hujan yang diatas normal sehingga jika disimulasikan menggunakan formula yang kami pakai, tingkat kerawanan menjadi meningkat dari perhitungan kondisi biasa.
Simulasi Kerawanan Banjir:
Pada hasil analisa kondisi biasa, curah hujan 120, Skor 4 Nilai 140% menghasilkan nilai kerawanan 4,05 (Agak Rawan), Kondisi pada saat kejadian curah hujan mencapai > 300 mm/hari, Skor 5 Nilai 175% menghasilkan skor kerawanan 4,40 (meningkat menjadi Sangat Rawan). Jadi faktor penyebab utama kejadian masih cenderung kepada faktor curah hujan yang sangat tinggi dari biasanya, didukung informasi dari BMG dimana curah hujan di Jawa Barat akan berada pada kondisi normal sampai atas Normal hingga awal tahun 2009.
Longsor terjadi selain dari curah hujan yang sangat tinggi, juga daerah tersebut merupakan zona gempa tumbukan lempeng vulkanik di daerah Pantai Selatan (Badan Vulkanologi)
Kegiatan kehutanan misalnya dari BPDAS Citarum-Ciliwung juga dari Dinas PKT Kab. Cianjur yang berupa kegiatan Vegetatif melalui GERHAN dan GRLK yang mulai dilaksanakan Tahun 2003, belum berpengaruh terhadap penurunan kerawanan bencana tersebut, karena umur tanaman masih muda dan juga faktor – faktor lain yang lebih bercenderung kepada tingginya kerawanan daerah tersebut.
IV. REKOMENDASI
1. Daerah Pasokan Air Banjir
a. Kawasan Hutan yang rusak direboisasi
b. Lahan-lahan milik dengan kelerengan > 45 % dikelola dengan pola Hutan Rakyat atau Agro forestry.
c. Lahan-lahan pertanian dengan lereng landai sampai agak curam menggunakan teras sering juga saluran air yang baik.
2. Daerah Kena Banjir
a. Pembuatan tanggul kiri kanan sungai di sekitar pemukiman
b. Sistem drainase yang baik di pemukiman maupun di infrastruktur seperti drainase jalan.
c. Hindari Sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
3. Daerah Longsor
a. Kawasan Hutan yang rusak direboisasi
b. Lahan-lahan milik dengan kelerengan > 45 % dikelola dengan pola Hutan Rakyat atau Agro forestry.
c. Lahan-lahan pertanian dengan lereng landai sampai agak curam menggunakan terassering juga saluran pembuangan air (SPA) yang baik.
d. Pembuatan bangunan Teknik Sipil pencegah longsor misalkan bronjong pada tebing- tebing infrastruktur misalkan jalan pada lereng.
e. Pengurugan/penutupan rekahan, reshaoing lereng, bronjong kawat, perbaikan drainase baik drainase permukaan seperti saluran pembuangan atau drainase bawah tanah.
Penanganan Bencana di Jabar Tidak Proaktif
Bandung, Kompas - Curah hujan yang tinggi, kondisi geologis, serta perluasan permukiman penduduk merupakan tiga penyebab bencana longsor di Jawa Barat. Provinsi Jabar termasuk daerah yang paling rawan bencana longsor ketimbang provinsi lain di Indonesia.
â€Dari semua kejadian selama 10-20 tahun terakhir, frekuensi longsor di Jabar berada di rangking teratas, diikuti Jawa Tengah dan Sumatera Barat,†kata Gatot Mochammad Soedrajat, Kepala Seksi Gerakan Tanah Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, di Bandung, Kamis (8/12).
Menurut Gatot, Provinsi Jawa Barat (Jabar), khususnya di bagian selatan, secara geologis terletak di zona gempa, yaitu wilayah di sekitar tumbukan lempeng tektonik di daerah pantai selatan.
Meskipun dimensi gempa tidak terlalu besar, titik pergerakan tanah hampir merata di kawasan Jabar. Provinsi Jabar termasuk dalam zona tumbukan lempeng Indo-Asia dan lempeng Indo-Australia.
Oleh karena itu, di Jabar banyak terdapat deretan gunung api, seperti Gunung Papandayan, Gede, Guntur, dan Gunung Galunggung.
Gatot mengungkapkan, kemungkinan terjadinya longsor sangat besar. Pasalnya, curah hujan di Jabar relatif tinggi. Bahkan, Jabar merupakan provinsi dengan curah hujan tahunan tertinggi di Indonesia.
Curah hujan biasanya mulai meningkat di bulan November sampai Februari. Bahkan, curah hujan di Jabar bisa mencapai 300 milimeter.
Selain alam, kegiatan manusia juga mendorong terjadinya bencana longsor, seperti pembangunan permukiman dengan memotong lereng atau mengubah tata lahan pertanian.
Dengan memotong lereng, ujar Gatot, akan membuat kestabilan tanah menjadi terganggu sehingga tanah pun rentan longsor saat ada sedikit pergerakan tanah.
â€Dari semua kejadian selama 10-20 tahun terakhir, frekuensi longsor di Jabar berada di rangking teratas, diikuti Jawa Tengah dan Sumatera Barat,†kata Gatot Mochammad Soedrajat, Kepala Seksi Gerakan Tanah Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, di Bandung, Kamis (8/12).
Menurut Gatot, Provinsi Jawa Barat (Jabar), khususnya di bagian selatan, secara geologis terletak di zona gempa, yaitu wilayah di sekitar tumbukan lempeng tektonik di daerah pantai selatan.
Meskipun dimensi gempa tidak terlalu besar, titik pergerakan tanah hampir merata di kawasan Jabar. Provinsi Jabar termasuk dalam zona tumbukan lempeng Indo-Asia dan lempeng Indo-Australia.
Oleh karena itu, di Jabar banyak terdapat deretan gunung api, seperti Gunung Papandayan, Gede, Guntur, dan Gunung Galunggung.
Gatot mengungkapkan, kemungkinan terjadinya longsor sangat besar. Pasalnya, curah hujan di Jabar relatif tinggi. Bahkan, Jabar merupakan provinsi dengan curah hujan tahunan tertinggi di Indonesia.
Curah hujan biasanya mulai meningkat di bulan November sampai Februari. Bahkan, curah hujan di Jabar bisa mencapai 300 milimeter.
Selain alam, kegiatan manusia juga mendorong terjadinya bencana longsor, seperti pembangunan permukiman dengan memotong lereng atau mengubah tata lahan pertanian.
Dengan memotong lereng, ujar Gatot, akan membuat kestabilan tanah menjadi terganggu sehingga tanah pun rentan longsor saat ada sedikit pergerakan tanah.
Langganan:
Postingan (Atom)